Berawal dari baca blog nya marischka prudence tentang jalan jalan nya ke pulau weh 2 tahun yang lalu, dalam hati bertekad, “saya harus samperin tempat itu suatu saat”. Dan akhirnya mimpi itu terwujud juga, dari sinilah petualangan menjelajahi Indonesia saya anggap dimulai. Jadi sekitar bulan november 2014 kemaren saya dapat kabar kalau sahabat saya yang dari Aceh mau nikah, langsung lah saya validasi tentang kabar itu, dan benar sahabat saya ini akan melangsungkan pernikahannya di tanggal 20 Februari 2015 dan Resepsi pernikannya di tanggal 21 Februari 2015. Ahhaaa… masih cukup waktu ngumpulin duit untuk biaya ke Aceh, dan mungkin sudah jalannya kebetulan sebelumnya saya udah nabung yang rencananya mau saya gunakan untuk ikut wordcamp 2014 (tempat kumpul kumpul para penggemar wordpress), yang waktu wordcamp 2013 di jogja, direncanakan wordcamp 2014 akan dihelat di Denpasar, Bali. Tapi karena suatu hal, acara wordcamp 2014 tidak jadi diselenggarakan. Duit itulah yang kemudian saya belikan tiket pesawat Jakarta – Aceh  dengan maskapai Lion Air, karena penerbangan langsung dari Jakarta – Banda Aceh cuma ada 2 maskapai yaitu Garuda Indonesia dan Lion Air, maka pilihan jatuh ke Lion Air, tahu sendiri kenapa saya pilih Lion Air kan… hihihihihi. Tiket berangkat udah ditangan, tiket balik belum kebeli, karena sisa tabungan belum cukup, akhirnya sebulan kemudian (Desember 2014), baru tiket balik ke Jakarta baru bisa kebeli, itupun saya memilih penerbangan dari Kualanamu, Medan. Karena kalau dari Banda Aceh ke Jakarta ternyata lebih mahal broh, daripada tiket berangkatnya.

Dan tibalah waktu petualangan ini di mulai, saya terjadwal naik penerbangan Lion Air JT-396 tanggal 19 Februari 2015 Pukul 17:25 Rute Cengkareng (Jakarta) – Banda Aceh. Kebetulan hari itu ngepasin dengan hari raya imlek, pikiran saya jalanan Bandung – Jakarta bakal macet, jadilah saya berangkat dari Bandung sekitar pukul 12 siang dengan menggunakan travel cititrans, dan ternyata jalanan lengang abis, nyampe bandara soetta jam 2 lebih. Untuk membunuh waktu menunggu waktu check-in, saya baca aja buku yang sengaja saya bawa untuk menemani perjalanan saya, hingga kemudian waktu check-in tiba. Mau masuk ke Gate 2B, diselasar udah rame aja orang duduk, dalam hati, “ini kok kayak suasana lebaran aja”, makin masuk di bagian informasi udah rame orang, di dalam udah penuh banget sampai susah cari tempat duduk. Dan kemudian apa yang saya khwatirkan terjawab, ketika ada petugas dari Lion Air mulai bagi bagi nasi. Udah nih, ada yang ga beres nih, sambil muter muter nyari tempat duduk keributan mulai menjadi, akhirnya iseng iseng nanya ke penumpang lain, penerbangan jam berapa? dari sebagian yang saya tanya menjawab penerbangan pagi dan siang, gilaaa… yang seharusnya dari pagi dan siang udah dijadwalkan terbang sampai mau magrib gini belum ada kejelasan. Udah deh, no hope. Apalagi ditambah temen temen banyak yang nanyain naik maskapai apa? makin bikin pesimis aja. Dan ternyata udah masuk berita TV tentang delay Lion Air yang ternya sudah sejak hari Rabu.

Makin larut, makin kacau suasana gate. Setiap ada penerbangan yang mau berangkat tidak diumumkan melalui pengeras suara, cuma lewat saling colek dan teriakan para petugas. Bikin was was juga, takutnya bakal ketinggalan pesawat. Setiap ada petugas, selalu saya tanya, “penerbangan JT-396 udah belum?” Sampai akhirnya cape sendiri, ditambahkan keruwetan yang makin menjadi. Dibagian informasi sudah mulai muncul teriakan teriakan, bahkan hampir aja terjadi pemukulan, kadang saya juga kasian sama petugas informasi ini yang dijadikan bumper oleh manajemen. Waktu udah mulai masuk magrib, ada perasaan tidak tenang waktu sholat, dengan model pengumuman seperti itu bisa bisa ketinggalan informasi. Selesai sholat kondisi belum berubah, sampai kemudian masuk isya’, yang kemudian saya memutuskan untuk “nanti aja lah, toh waktu panjang ini”. Makin malam satu persatu penumpang yang dijadwalkan terbang pagi dan siang sudah mulai diberangkatkan. Ada satu hal yang kemudian menurut saya menjadi aneh, karena ada kemudian ada keputusan penumpang yang sama jurusannya meski beda jadwal terbang nya bisa ikut dalam pesawat untuk menuhin kursi yang ada. What? bukankan itu nyalahin manifest, kalau sampai terjadi sesuatu dengan pesawat yang ditumpangi bisa parah, karena tidak ada pendataan ulang penumpang.

Kini giliran para penumpang penerbangan sore dan malam yang mulai ga jelas, meja informasi sudah mulai ga ada petugasnya, yang nampak cuma petugas kebersihan. Jam sudah menunjukan pukul 9 lebih dan belum ada kejelasan, TV ONE dalam acara apakabar indonesia malam, sudah mulai memberitakan tentang kekacauan LION AIR. Huuufffffttt… saya kira dulu waktu merasakan delay nya Batavia Air waktu pulang dari manokwari penerbangan makassar – jakarta (via surabaya) adalah delay terparah yang pernah saya rasakan. Tapi kali ini akhirnya ngerasain delay yang bener bener parah, the worst flight delay ever. Tanpa ada kejelasan kami semua menunggu dalam ketidakpastian, tidak ada satupun petugas Lion Air yang stand by di ruang tunggu, saya rasa hampir penumpang mengalami hal yang sama, lapar, tapi takut mau pergi makan karena khawatir kalau tiba pesawat diberangkatkan. Dalam kondisi tidak pasti, tanpa kejelasan dan rasa lapar kami tetap bertahan di ruang tunggu. Baru sekitar pukul 10 an malam ada petugas yang mengantar makanan itupun langsung berebut, tidak semua penumpang dapat, kemudian datang lagi petugas untuk mengantar makanan berikutnya, pun demikian saling berebut karena sudah pada lapar. Ada kondisi yang membuat saya sedih, dan ingin mengumpat se ngumpat ngumpatnya ke Lion Air ini, jadi penerbangan sore itu saya bareng dengan jama’ah yang baru pulang umroh, mau balik ke kampung halaman dengan tujuan penerbangan Padang. Banyak ibu ibu yang sudah tua, pasti sudah lelah karena habis perjalanan jauh pulang ke tanah air, harus menunggu ketidakpastian, dan banyak yang beristirahat di lantai lorong lorong keberangkatan, ini ditambah pula harus rebutan makanan. Seketika itu saya teringat ibu saya, bagaimana yang dalam kondisi waktu itu adalah ibu saya, ga tega saya ngelihatnya, ibu ibu yang sudah tua harus berebut makanan, kami ini penumpang pesawat, kami bayar mahal, bukan perlakuan seperti ini yang kami harapkan. Perlakuan yang tidak lebih terhormat dari bagi bagi makanan di jalanan.

Waktu terus berlalu tanpa kejelasan, kursi kursi ruang tunggu akhirnya menjadi tempat kami merebahkan badan yang sudah  lelah. Tidurpun juga tidak bisa nyenyak karena masih dihinggapi pikiran tentang kapan kita berangkat. Sampai pukul 2 dini hari masih belum ada kabar, saya berfikir udah ga mungkin kalau mau diberangkatkan dini hari ini. Tapi kemudian menjelang subuh kami semua dikagetkan dengan teriakan, “yang ingin berangkatkan pagi ini, suruh kumpul di gate 2A”. Dan ternyata disana sudah ramai orang, ada petugas dari manajemen Lion Air yang menemui kami, udah suasana di subuh yang tenang kemudian menjadi ramai penuh umpatan, apalagi ini isi nya orang orang Aceh, Medan dan Padang. Tahu sendiri kan gimana kalau orang sumatra udah ngomong, beruntung saya terbang bersama mereka, vokal semua… hehehehehe.

Akhirnya setelah perseteruan cukup sengit, alot dan keras, dari pihak manajemen menyanggupi kita berangkat pagi ini, dengan kompensasi penginapan sebesar 500 ribu dibagi saat naik pesawat dan 300 kompensasi keterlambatan dibayar transfer. Sudah mulai muncul harapan, dari masing masing penerbangan ada yang mewakili kami mendampingi perwakilan dari Lion Air ini biar tidak ingkar janji. Setelah subuh, kami dibagi form untuk klaim yang 300 ribu, ramai rami kami mengisi form tersebut, mentari pagi sudah menampakkan senyumnya, tapi tidak dengan senyum kami, karena belum ada kabar lebih lanjut tentang kapan kami akan diberangkatkan. Kemudian tiba tiba ada pergerakan yang cukup massive, mengajak kami untuk turun ke apron (tempat parkir pesawat). Kami kemudian lebih memilih menunggu kejelasan di apron, seeanggaknya ini menegaskan sikap kita, tak berapa lama, karena memang aktifitas para penumpang cukup meresahkan tentunya bagi pengelola bandara (angkasa pura), tak butuh waktu lama munculah perwakilan dari Lion Air yang sebelum subuh tadi sudah menjajnikan kepada kami.

Mereka mencoba membuat kami tenang, dengan mengatakan bahwa pesawat nya sudah disiapkan di terminal tiga, beramai ramailah kami naik bus menuju terminal 3, dengan penuh harap kami bisa berangkat secepatnya. Sungguh tidak disangka, sampai di terminal 3 bus tidak boleh masuk karena jalanan diblokir oleh penumpang Lion Air juga yang sudah sejak rabu belum diberangkatkan (gilaakkk, udah 2 hari brohh mereka terkatung katung di terminal 3). Karena bersepakat tidak turun dari bus, akhirnya kami meminta sopir untuk kembali lagi ke terminal 2, dan petugas dari Lion Air yang mengirim kami ke terminal 3 sudah tidak berani lagi menampakkan batang hidung nya. Bahkan saat kami kembali ke terminal 2, pihal Lion Air juga akan memindahkan penumpang penerbangan lain ke terminal 3 juga, kemudian dari beberapa kami yang sudah kesal  menghalangi bus, dan meminta para penumpang turun dari bus. Situasi makin kacau, kami makin jengkel dengan tingkah laku para perwakilan Lion Air ini, akhirnya ada beberapa rombongan penumpang memutuskan untuk menuju ke runaway, dengan alasan jika kami tidak berangkat, maka semua penumpang Lion Air lain juga tidak berangkat. Karena pagi itu beberapa penerbangan berjalan semestinya sesuai yang dijadwalkan, padahal Lion Air masih punya tanggungan penumpang sebelumnya, apa ga parah ini?  Para penumpang yang sudah mulai habis kesabaran berduyun duyun berjalan menuju runaway, tapi kemudian dihalangi oleh pihak keamanan angkasa pura, mungkin karena pihak angkasa pura juga jengkel dengan pihak Lion Air, akhirnya mereka ikut nge-push juga pihak Lion Air. Akhirnya sekitar pukul 9 pagi kami naik ke pesawat dan sekitar pukul 10 pagi kami take off dari cengkareng menuju bandara kualanamu. Rencana saya untuk bisa ikut sholat jum’at di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh tidak mungkin terlaksana, berharap malamnya bisa menghadiri acara akad nikah temen.

Sekitar pukul 12 siang kami mendarat di Kualanamu, kami kemudian buru buru mengurus connecting flight ke Banda Aceh, yang terjadwal berangkat pukul 14.35 WIB. Sementara menunggu waktu check-in kami coba mengurus kompensasi penginapan yang 500 ribu di Kantor Lion Air Kualanamu, alhamdulillah bisa cair juga. Seenggaknya itu bisa mengurangi kejengkelan kami, tak bertahan lama dengan kesenangan yang kami dapat kemudian kami dihadapkan lagi dengan kacuanya jadwal penerbangan Lion Air di Kualanamu. Yahhhh, bakal ga jelas lag nasih kami sampai ke Banda Aceh ini. Dan benar saja, sampai jadwal kami berangkat belum ada kejelasan, katanya di undur sampai pukul 17.00, tapi diruang tunggu udah mulai bagi bagi nasi lagi. Puffttt… benar saja, sampai pukul 17.00 belum ada kejelasan juga, udah mulai galau, jangan sampai harus nginep lagi di bandara. Beberapa kenalan baru kemudian ngajakin untuk naik bus aja, kalau lancar besok pagi sudah sampai. Apapun jalan yang saya tempuh, baik menunggu kejelasan atau memutuskan untuk naik bus, saya ga bisa datang ke akad nikah sahabat saya malam itu. Sedih lah. Hingga, ada kabar dari teman bahwa nanti jam 9 malam kita pasti berangkat, okelah.. untung ga jadi naik bus. hehehehe. Jam setengan sepuluh malam kami naik pesawat, dan take off meninggalkan Kualanamu kira kira pukul 10 an malam, dan alhamdulillah finally bisa landing denga selamat di Bandara Sutan Iskandar Muda Banda Aceh sekitar pukul 11 malam, Fuhhhh… perjalanan yang cukup melelahkan, kesabaran, pengalaman yang tidak pernah akan terlupa. Bandung – Banda Aceh harus menghabiskan waktu 35 Jam. Dan karena kejadian itu ga lagi lagi saya naik pesawat Lion Air ini, kecuali kepepet atau tiketnya dibeliin… ngahahahaha…