Setelah selesai menghadiri walimahan sahabat saya, sekitar pukul satu siang pada tanggal 21 Februari 2015 saya mulai meninggalkan wisma mentari di daerah Peurada menuju pelabuhan Ulee Lheue untuk mengejar penyeberangan jam 2 siang. Rencana mau naik becak motor dari wisma ke pelabuhan, udah nanya ke abang yang jaga wisma kira kira berapa biaya ke pelabuhan, eh malah ditawarin untuk naik ojek yang nariknya dia sendiri. Peurada – Ulee Lheue kurang lebih 20 menit perjalanan, udah deg deg an aja takut ketinggalan penyeberangan. Ternyata setelah sampai di Pelabuhan, penyeberangan ke pulau Weh diundur jadi jam 4 sore. Walhasil harus ngejogrok di pelabuhan lumayan lama, loket tiket kapal roro yang akan saya tumpangi pun baru buka sekitar setengah tigaan. Sebenarnya ada dua pilihan kapal untuk menyeberang ke pulau Weh, yaitu kapal cepat dan kapal roro, lama perjalanan keduanya selisih setengah jam, kalau menggunakan kapal cepat perjalanan Pelabuhan Ulee Lheue – Pelabuhan Balohan cukup ditempuh 1 jam saja, sedangkan kalau menggunakan kapal roro butuh waktu 1 1/2 jam. Harga tiket kapal cepat mulai dari Rp 80.000 – Rp 110.000 dari kelas Bisnis, VIP dan VVIP, sedangkan untuk kapal roro mulai dari Rp 25.000 – Rp 45.000, jika membawa kendaraan ada biaya tambahan lagi. Saya memilih menggunakan kapal roro dengan kelas ekonomi, jadi untuk sampai pulau Weh saya cukup mengeluarkan uang sebesar Rp 25.000.

Pukul 16.00 kapal mulai meninggalkan pelabuhan Ulee Lheue menuju Balohan, sepanjang perjalanan hanya nampak samudra yang luas dan samar samar nampak gunung di kejauhan, itulah pulau weh. Pukul 17.30 kapal mulai merapat di pelabuhan Balohan, niat hati langsung mau menuju iboih, tapi hari sudah mulai gelap, jadi saya putuskan untuk bermalam di Sabang, baru keesokan hari nya menuju Iboih. Di Balohan saya coba untuk sewa motor, jika saya pinjam sabtu sore dan dikembalikan senin pagi, dihitungnya 3 hari, dengan harga sewa total Rp 300.000, gilee aja, saya coba tawar Rp 200.000 tapi ga dikasih. Karena hari makin gelap, beruntung masih ada angkot L300 yang tersisa menuju Sabang. Maka saya tidak jadi sewa motor, dan memutuskan untuk naik mobil aja menuju Sabang untuk cari penginapan serta cari sewaan motor. Selama perjalanan Balohan – Sabang saya berkenalan dengan Abang Midun, yang kemudian mengantar saya ke Wisma yang murah serta dari dia juga saya dikasih tahu tempat sewa motor Ambia, saya dikasih nomor oleh bang Midun. Jika teman teman baru pertama kali datang ke Sabang, silakan hubungi bang Midun 08136279959 dan tempat sewa motor di bang Ambia 081360746370.
Malam itu saya putuskan untuk menginap di Losmen Pum, karena selain masih ada pilihan kamar, harga nya pun lebih murah dibanding dengan beberapa penginapan disekitar situ, sebenarnya kalau mau cari ada yang lebih murah, cuma harus masuk ke gang, saya sendiri sudah cukup capek dan ingin segera mandi dan merebahkan badan. Sebelum tidur, saya hubungi bang Ambia untuk hari minggu pagi sampai senin pagi saya mau pinjam motor, beruntung masih ada stok karena saya ngepasin weekend waktu berkunjung ke Weh. Biaya yang saya keluarkan Rp 150.000 untuk sewa motor honda beat, kondisi masih bagus.


Minggu pagi saya segera mengemasi barang, dan checkout dari penginapan. Saya sudah janjian dengan bang Ambia sekitar pukul 07.00 motor saya ambil. Sembari menunggu motor, saya sarapan dulu nasi bungkus di Warung kopi depan losmen, 2 Bungkus Nasi Lauk Ikan, Teh Panas plus gorengan 2 cukup Rp 14.000 saja.


Tak selang berapa lama, bang Ambia udah datang. Motor sudah berpindah tangan, saya putuskan untuk menyusuri pulau Weh dari sisi timur dulu.

Perjalanan saya mulai dari pelabuhan sabang menuju ke pantai sumur tiga, beberapa kali sempat berhenti. Kata teman, tempat yang tepat untuk menikmati sunrise ya di Sumur Tiga ini, karena waktu yang singkat maka sumur tiga bukan jadi tujuan utama saya, sejenak menikmati laut di sisi timur Weh, saya putuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Iboih.


Saya memilih lewat jalur atas alih alih balik lagi ke sabang, karena sekalian mampir ke Danau Aneuk Laot, danau yang menjadi sumber air tawar di sabang. Saya sulit menemukan spot yang pas untuk menikmati danau ini, karena sepanjang jalan dipinggir danau tumbuh lebat pohon pohon, hingga kemudian hampir diujung danau, ada gang yang bisa dimasuki motor, saya coba masuk dan turun menuju bibir danau. Disana sedang ada dua anak kecil yang asyik memancing, karena matahari mulai beranjak meninggi, cahayanya sudah tidak bagus lagi untuk mengambil gambar, terlalu silau. Sebentar saja saya singgah di Danau Aneuk Laot ini dan langsung tancap gas menuju Iboih.


Sepanjang perjalanan yang tersuguh hanya keindahan, jalanan halus, lebar, sepi. Tumbuhan hijau menyelimuti gunung gunung, lautan biru terhampar luas di sisi satunya. Ya Allah begitu indah ciptaan Mu ini. Selain itu kita juga harus melewati hutan dimana masih banyak monyet yang berkeliaran di pinggir jalan, bahkan terkadang ada yang nongkrong di tengah jalan. Jadi harus hati hati ketika melewati jalur ini, karena selain jalan yang naik turun dan berkelok kelok, kadang masih banyak monyet yang wara wiri, hampir saja saya mau di colek juga sama tuh monyet. Selama perjalanan saya sempat rekam beberapa spot, tapi… tapi… nanti juga bakal tahu ada kisah sedih diperjalanan kali ini.


Iboih, di Bungalow ingin aku menginap
Perjalanan ke Iboih dari danau Aneuk Laot kurang lebih 1 1/2 jam, karena harus berhenti dibeberapa tempat. Sekitar pukul 11 saya sudah sampai di Iboih. Karena pertama kalinya kesini, saya sempat kelewat pintu masuk nya, akhirnya harus putar balik dan masuk ke lokasi wisata Teupin Layeu. Begitu masuk saya bingung mau kemana, tiba tiba ada abang abang nyamperin dan nawarin untuk snorkling ke pulau rubiah, karena kebetulan perahu masih ada bangku kosong, waktu itu saya ditawari dengan harga Rp 45.000, sudah lengkap tinggal nyebur aja. Tapi karena dipunggung masih menempel backpack, bingung juga mau nitip dimana, eh, malah ditawarin penginapan juga, tempatnya dipinggir jalan juga, dekat juga ke laut, per malam nya Rp 100.000. Tapi bukan tempat seperti itu yang ingin saya kunjungi atau tempat saya menginap. Berhubung motivasi saya ke Iboih ini karena postingannya Marischa Prudence, maka tempat yang seperti itu juga yang ingin saya tempati. Akhirnya nanya ke abang itu, kalau semacam bungalow di mana tempatnya, kata abangnya jauh diujung sana, dan biayanya bakal 2 kali lipat. Sempat menghubungi beberapa bungalow, seperti Iboih Inn dan Fatima bungalow, dan benar saja karena weekend kamar yang tersisa tinggal kamar yang harga mulai Rp 300.000. Tapi saya masih punya tempat tujuan menginap satu lagi yaitu Yulia Bungalow, beberapa kali saya hubungi tidak diangkat. Tapi saya bertekat gimanapun saya harus menginap di bungalow pinggir pantai dengan debur ombak dan bau laut yang menemani, sudah jauh jauh, jika pun harus mengeluarkan kocek lebih tak jadi soal. Motor saya parkir di ujung lokasi wisata, tapi pas mau ninggalin kok was was juga. Akhirnya nanya ke penjual es kelapa muda, kalau mau ke Yulia selain lewat sini bisa ga? kemudian dia kasih tahu bisa lewat atas, nanti setelah tikungan ada jalan masuk ke kanan nanjak, masuk aja, nanti motor bisa diparkir deket sana.

Menujulah saya ke jalan yang dimaksud, dan benar saja jalanan nya masih tanah dan berbatu, lumayan terjal untuk dilalui motor matic. Motor saya parkirkan di rumah paling ujung yang bisa dijangkau motor, dan kemudian tanya lokasi Yulia Bungalow di mana? Ternyata lokasi Yulia Bungalow ada dipaling ujung, ga kebayang aja jika tadi harus parkir di lokasi wisata, jalan kakinya bakal jauh banget.

Sampailah saya ke Yulia Bungalow, langsung tanya kamar. Dan… taraaaa… untuk jomblo traveller seperti saya ternyata ada kamar seharga Rp 150.000 per malam, padahal kamarnya kalau mau di pakai bertiga juga cukup. Tanpa pikir panjang langsung saja saya checkin, dan pilih bungalow yang bener bener di pinggir pantai, bahkan menjorok ke pantai.


Taruh barang, istirahat sejenak, dan seperti tak mau membuang waktu, saya datangi bang Rendy (pemilik Yulia Bungalow) tanya kalau mau snorkling ke pulau rubiah bisa anter ga kalau sendirian, ternyata ga bisa, harus nunggu barengan dulu, dan bang rendy pun menyarankan untuk snorkling di sekitaran situ saja. Toh ada beberapa spot yang bagus. Tapi sayang aja udah sampai situ kalau ga nyeberang ke pulau Rubiah. Akhirnya saya ditawari alternatif dengan menggunakan perahu kano. Berpikir sejenak, karena saya harus melawan rasa takut menyeberang menggunakan perahu, sendirian pula. Kepalang tanggung, sudah sampai sejauh ini sayang kalau tidak mencoba tantangan, saya setujui tawaran untuk menyeberang ke pulau rubiah menggunakan perahu kano ini. Pelampung sudah terpasang, alat snorkling sudah lengkap, berangkatlah saya mendayung kano sendirian. Gila, ternyata arus nya lumaya deras, gelombang nya lumayan tinggi, udah kayak mau terbalik aja kano nya, cukup lama saya terombang ambing di tengah selat.

Rasanya pengen balik lagi, tapi sudah sama jauhnya, mau ga mau saya harus melanjutkan perjalanan untuk mencapai tepian. Seluruh tenaga saya kerahkan untuk mencapai pulau rubiah, akhirnya sampai juga. Tantangan belum selesai sampai disitu, saya harus diribetkan dengan bagaimana cara ngikat perahu ke dermaga, hampir beberapa kali mau kecebur saat meraih tiang tiang dermaga.

Sebelumnya, saya memutuskan untuk menyewa kamera underwater untuk mengabadikan keindahan dunia bawah air pulau rubiah ini, berhubung stok kamera di bang Rendy habis, saya disarankan untuk meminjam disaudaranya kalau sudah sampai seberang. Jadi, ketika menyeberang saya bawa memory card dari kamera saya, perasaan sudah saya masukkan ke plastik dan sudah saya masukkan ke saku celana. Tapi takdir berkata lain, sesampainya diseberang, saat kamera sudah ditangan dan saat merogoh saku kok ga nemu memory card nya, saya coba balik lagi ke perahu tapi tidak ada. Rasanya udah pundung, mood udah hilang, tapi melihat usaha saya sampai ke pulau ini dengan susah payah, ga ingin merusak kesenangan yang seharusnya saya rasakan. Akhirnya saya pake memory card dari tempat sewa, langsung saja perlengkapan snorkling saya pake dan nyebur untuk melihat keindahan bawah laut pulau Rubiah ini. Hari sudah siang, matahari makin tinggi, cahaya semakin terang menembus air, tidak bagus lagi hasil jepretan kamera ini, melihat ikan juga makin susah karena silau patulan air.

Setelah dirasa cukup, selain sudah capek fisik juga capek hati karena kehilangan memory card belum bisa dihapus dari ingatan. Sambil istrirahat, ngobrol dengan bapak bapak yang sedang memandu turis dari cina, dia ngomong, kalau jam jam segini ga bagus buat snorkling, kalau mau bagus pas pagi atau nanti sore mas, pas air laut surut, di tengah situ (sambil nunjuk ke kumpulan karang yang nampak membayang hitam) kalau pas air surut ikan ikan pada kumpul, dan kalau mau foto foto juga bagus. #jlebbb
Ahhh.. seandainya kemaren penyeberangan tidak ditunda, pasti kemaren sore saya sudah sampai Iboih, dan pagi tadi seharusnya saya bisa menikmati dengan maksimal keindahan dunia bawah air pulau rubiah ini. Tapi, ya memang ini yang harus terjadi, maka terjadilah. Sore ini pun juga ga sempat lagi buat snorkling karena sudah terjadwal untuk menikmati sunset di Kilometer Nol.
Dengan sisa mood dan tenaga, saya putuskan untuk menyeberang kembali ke pulau utama, pengen tidur aja di Bungalow menunggu sore datang. Dengan usaha yang tak kalah kerasnya seperti waktu berangkat, sampailah saya di dermaga bungalow. Begitu ketemu bang Rendy, dia langsung ngomong, “Hebat juga kamu mas, kuat mendayung sendirian bolak balik, padahal arusnya lagi kenceng gitu, seharusnya nanti sore mas, pas air surut”, nah, kan kampret ini, kenapa ga bilang dari tadi. Kan, saya ga perlu kehilangan memory card. Ahhh… terlalu banyak mengandai andai, seakan akan kok seperti ga terima apa yang sudah digariskan Tuhan.

Saya selesaikan semua biaya sewa dan menyerahkan kamera untuk minta ditransferin foto hasil snorkling tadi. Kemudian saya mandi, dan istirahat di serambi bungalow, membaca buku sambil menikmati semilir angin sepoi sepoi diiringi deburan ombak, sungguh nikmat mana lagi yang bisa didustakan.


Kilometer nol, keindahan sunset dan petualangan itu resmi dimulai
Sekitar pukul 16.00 saya menuju ke kilometer nol untuk menikmati sunset, saya lihat langit begitu cerah, sepanjang perjalanan hanya berharap diujung horison barat saya tidak menyempil awan yang bisa menghalangi sunset. Sekitar 15 menit berkendara dari Iboih, saya sudah sampai di pintu gerbang kilomter nol, saya pikir jaraknya jauh, ternyata cuma dekat kalau dari Iboih. Begitu masuk, disuruh lewat jalan keluar, karena sedang ada proyek. Perasaan udah ga enak, dan benar saja, tugu kilometer nol sedang dalam renovasi, kata penjual warung yang ada disitu seharusnya desember 2014 tahun kemarin dijadwalkan sudah selesai, tapi sampai sekarang belum kelar juga. Mau ga mau harus menikmati tugu kilometer nol diantara deru mesin alat berat, debu, dan tempat yang berantakan. Dipinggir tebing spot tempat menikmati sunset pun juga sudah berjajar pedagang kaki lima yang mengurangi keindahan, saya dan beberapa pengunjung kemudian harus menaiki pagar di belakang warung warung tersebur untuk bisa menikmati hamparan laut luas sembari menunggu senja datang. Meskipun harus dihadapkan dengan kondisi tugu yang belum rampung renovasi, tapi seenggaknya saya bisa menikmati perfect sunset, benar benar bisa menikmati secara utuh proses tenggelamnya matahari.




Adzan berkumandang, tak lama lama saya bertahan di situ, karena hari begitu cepat menjadi gelap, belum lagi hutan lebat yang harus saya lewati, membuat saya buru buru kembali ke Bungalow. Maka hanya tidur menyambut esok pagi yang bisa saya lakukan, karena pukul 05.00 pagi saya harus sudah cabut meninggalkan penginapan untuk mengejar penyeberangan pagi dari Balohan menuju Ulee Lhueue.

Subuh datang, pagi menjelang. Saya beranjak meninggalkan surga dunia dengan segala keindahan alamnya, saya kebut kendaraan dengan harapan pukul 06.00 bisa sampai sabang untuk mengembalikan motor, dan naik angkot menuju pelabuhan yang dijadwalkan pukul 07.00 berangkat. Sebelumnya saya sudah janjian dengan bang Midun untuk dijemput didepan losmen Pum. Begitu sampai di Sabang, bang Midun udah nungguin, tapi mobilnya belum datang, baru ambil penumpang. Sekitar setengah tujuh lebih, mobil sudah datang, dan kemudian membawa saya dengan satu turis dari cina sepertinya. Saya kira bakal langsung menuju pelabuhan, tapi ternyata harus ambil beberapa penumpang di perkampungan pula, hati sudah was was kalau kalau ketinggalan kapal kan bisa repot. Turis dari Cina pun sesekali menengok jam tangannya, sepertinya dia khawatir juga. Setelah penumpang sudah terangkut semua, barulah mobil ngebut menuju pelabuhan Balohan, sampai di sana loket sudah ditutup dan penumpang sudah dalam proses angkut. Kami langsung berlarian menuju kapal, karena buru buru saya ga sempat foto bareng dengan bang Midun, hanya sempat mengucapkan terimakasih dan kapan kapan bisa kembali lagi ke tempat ini.

Tiket kapal saya beli dipintu masuk kapal, penumpang pagi itu begitu ramai, sampai saya sulit menemukan tempat duduk, bahkan lantai paling atas pun juga sudah penuh, akhirnya saya nemu bangku kosong, kosong karena bangkunya basah, jadi tidak ada yang memakai, karena di backpack ada bag cover nya, saya pakai itu untuk alas. Sambil menikmati sarapan nasi bungkus yang saya beli dari kantin kapal, saya menuju kembali ke pulau besar untuk melanjutkan penjelajahan di kota Banda Aceh.

Sekitar pukul 09.00 kapal sudah merapat di pelabuhan Ulee Lheue. Perjalanan dari pelabuhan menuju kota Banda Aceh saya lanjutkan menggunakan Labi labi (omprengan), berdesak desakan dengan penumpang lain.

Biaya yang saya keluarkan mulai berangkat dari Banda Aceh sampai pulau Weh dan balik lagi ke Banda Aceh adalah berikut :
| No | Keterangan | Biaya |
|---|---|---|
| 1. | Ojek Peurada - Ulee Lheue | Rp 25.000 |
| 2. | Tiket Kapal Feri Ulee Lheue - Balohan | Rp 25.000 |
| 3. | Angkot Balohan - Sabang | Rp 15.000 |
| 4. | Losmen Pum | Rp 99.000 |
| 5. | Sewa Sepeda Motor | Rp 150.000 |
| 6. | Sarapan | Rp 14.000 |
| 7. | Bensin | Rp 10.000 |
| 8. | Sewa Yulia Bungalow | Rp 150.000 |
| 9. | Sewa Alat Snorkling | Rp 50.000 |
| 10. | Sewa Kano | Rp 100.000 |
| 11. | Sewa Kamera Underwater | Rp 150.000 |
| 12. | Tiket Masuk KM Nol | Rp 5.000 |
| 13. | Es Kelapa Muda | Rp 10.000 |
| 14. | Pisang Goreng | Rp 4.000 |
| 15. | Bensin | Rp 10.000 |
| 16. | Angkot Sabang - Balohan | Rp 15.000 |
| 17. | Tiket Feri Balohan - Ulee Lheue | Rp 25.000 |
| 18. | Sarapan | Rp 18.000 |
| 19. | Labi labi Ulee Lhueu - Banda Aceh | Rp 8.000 |
| TOTAL | Rp 883.000 |
*Tips
Jika punya waktu lebih, sebaiknya teman teman mulai menikmati keindahan pulau Weh ini dari sisi Timur, katakanlah seperti saya baru tiba di pulau Weh pada malam hari, maka lebih baik menginap saja di Resort Sumur Tiga agar bisa menikmati sunrise di keesokan harinya, teman saya kasih rekomendasi tempat minginap di The Point atau Casa Nemo. Baru siang nya silakan mengekplorasi Sabang dan sekitarnya, kata bang Ambia, kalau mau ngitarin Pulau Weh, pake motor 4 jam juga kelar. Baru kemudian menuju ke Gapang Resort untuk menginap di hari kedua nya, ini lokasi nya dekat dengan Iboh, katanya di Gapang ini kita bisa lihat ikan lumba lumba. Dari gapang baru esoknya ke Iboh, klo bisa pagi hari biar masih bisa menikmati keindahan bawah laut iboh saat air surut, baru sorenya menikmati sunset di kilometer nol.
Hai… I’am a fulltime programmer who love travelling.My specialization are in front-end web dev and iOS mobile app dev. This site is one of place where I share my experience.