Menyebut kata Aceh, selalu punya tempat tersendiri di hati saya. Kuliah membuat bertemu dengan berbagai macam orang, dengan latar belakang yang beragam, suku, dan ras. Termasuk kemudian saya bertemu dan berteman dengan saudara saudara saya dari Aceh. Bahkan, kesenian dari Aceh inilah satu satu nya kesenian luar daerah yang pernah saya lihat selama kuliah di Jogja, dua kali malah. Saya pikir Aceh itu ya terdiri dari satu suku dengan satu bahasa, ternyata tidak, beberapa teman ada yang dari suku Aceh dan Gayo, dengan bahasa yang tidak sama. Begitu indahnya Indonesia ini dengan segala keberagamannya. Personally, saya mempunya ikatan dengan Aceh ini, betapa tidak, diawal awal kuliah, saat komputer pertama saya yang baru 4 bulan raib diambil orang, kepada salah satu kawan aceh saya, Qori namanya, kemudian saya meminjam komputernya untuk mengerjakan tugas, terlebih tugas programming, jadi kemampuan programming saya saat ini tidak terlepas dari peran teman saya, pun saat saat akhir kuliah, disaat teman teman satu kos sudah satu per satu lulus, maka saya dalam kesendirian untuk menyelesaikan tugas akhir, di saat itulah kemudian saya pindah satu kontrakan dengan kawan kawan aceh, saya adalah satu satu nya orang yang berasal dari jawa yang ada di kontrakan tersebut. Awal dan akhir perjuangan kuliah saya, selalu ada Aceh di sana.
Dan satu mimpi saya adalah bisa menapakkan kaki di Tanah Rencong ini, bukan hanya karena ada hubungan pribadi dengan kawan kawan yang berasal dari sana, tapi juga karena kekaguman dan rasa hormat saya kepada masyarakat Aceh, yang pada masa penjajahan hingga awal awal berdirinya Negara ini sangat berperan banyak.
Akhirnya setelah sekian lama, mimpi itu terwujud, pergi ke Aceh, sudah saya rencankan untuk saya eksekusi di tahun 2015 ini. Dulu waktu ada proyek implementasi aplikasi di seluruh Indonesia, saya sudah memilih Aceh sebagai salah satu rute nya, tapi takdir berkata lain, saya harus implementasi di Indonesia Timur. Bagaimana proses hingga saya bisa sampai ke Aceh, bisa dibaca di tulisan saya tentang “The Worst Flight Delay Ever. Meskipun diawali dengan kisah yang tidak cukup menyenangkan tidak membuat saya surut untuk menjelajah negeri Darussalam ini. Jadi tempat mana saja yang saya kunjungi selama di Banda Aceh. This is it.
Jadi sebenarnya saya lebih dulu menjelajah pulua Weh, baru kemudian menjelajah Banda Aceh, untuk perjalanan selama di Pulau Weh bisa dibaca di kisah saya yang lain. Setelah mendarat lagi di Banda Aceh, tempat yang saya kunjungi adalah :
-
Lapangan Blang Padang
Lapangan blang padang ini semacam alun alun, tempatnya luas, dan di tengah tengah ada pendoponya, yang kemudian membuat saya berkunjung ke sini karena di lapangan inilah terpampang gagah pesawat Dakota RI-001 Seulawah, pesawat resmi milik Republik Indonesia Raya yang merupakan sumbangan dari rakyat Aceh untuk Indonesia.

Dakota RI-001 Seulawah
Seulawah sendiri berarti gunung emas, karena harga pesawat tersebut seharga 20Kg emas, hasil dari kumpulan sumbangan rakyat Aceh. Pesawat inilah yang kemudian menjadi cikal bakal berdirinya perusahaan penerbangan niaga pertama Indonesian Airways, yang kini menjelma menjadi Garuda Indonesia. Pesawat ini sangat besar jasanya dalam perjuangan awal pembentukan negara Indonesia. Pesawat inilah yang menjadi saksi bisu betapa besar cinta rakyat Aceh kepada republik ini, bahkan emas yang dijadikan kubah di museum nasional pun juga sumbangan rakyat Aceh.Terimakasih saya untuk rakyat Aceh atas semua sumbangsih dalam mengangkat harkat dan martabat bangsa ini di mata dunia.

Dakota RI-001 Seulawah, Cikal bakal Garuda Indonesia
Selain pesawat seulawah, di lapangan blang padang ini juga di kitari oleh monumen ucapan terimakasih kepada seluruh negara yang telah membantu Aceh kala musibah tsunami
Monumen Ucapan Terimakasih -
Museum Tsunami
Tidak jauh dari lapangan blang padang ini ada Museum Tsunami, museum yang bangunannya dirancang oleh walikota Bandung sekarang, kang Ridwan Kamil ini berdiri sangat megah, sayang sekali saya hanya bisa menikmati keindahan museum ini dari luar karena saya berkunjung di hari senin, yang pada hari itu sedang tidak buka.

Jadwal Buka Museum Tsunami Aceh
Inilah yang kemudian saya menjadi benci karena delay lion air, karena seharusnya saya mulai menjelajah Banda Aceh dihari Jum’at tapi karena terlambat akhirnya saya pindah ke hari senin, dan harus memangkas beberapa tempat yang menjadi tujuan.

Arsitektur Museum yang menyerupai Cerobong Kapal

Batu Monumen Negara Negara yang membantu Aceh
Saya pernah membaca cerita kang emil tentang filosofi arsitektur museum tsunami ini yang mirip dengan kapal di mana ada satu cerobong, menurut dia, pengunjung akan dibawa berkeliling museum ini dalam keadaan gelap kemudian menuju ruang yang terang di lantai atas melewati cerobong tersebut yang dimana di ujung cerobong tersebut ada lafaz Allah. Sebuah perjalanan dari keterpurukan menuju kebangkitan, masih ada secerca harapan.
Saksi bisu dahsyatnya tsunami -
Taman Sari
Tempat ini semacam taman kota, kalau dari museum Tsunami tinggal berjalan ke arah timur kurang lebih lima menit. Dan memanjang sampai ke Masjid Baiturraman.

Taman Sari
Di ujung taman, yang berada dekat dengan masjid Baiturrahman ini ada pancang pancang paku bumi yang ditancapkan secara random dan dicat dengan berbagai warna, saya ga tahu apa maksudnya, karena di situ tidak ada monumen yang menjelaskan kenapa ada tiang pancang semacam itu.
Taman Pasak Bumi -
Masjid Raya Baiturrahman
Masjid inilah yang menjadi salah satu pendorong kenapa saya harus berkunjung ke Aceh, Rumah Allah inilah yang menjadi saksi betapa dahsyat Tsunami kala itu, di saat pertokoan yang ada disekitar nya hancur karena tak kuat menahan gelombang Tsunami, Masjid ini tetap berdiri kokoh dan menjadi tempat berlindung warga. Sungguh tidak ada kekuatan yang maha dahsyat kecuali kekuatan Allah.

Masjid Baiturrahman yang Cantik
Keinginan saya untuk bisa sholat berjamaah di sini pupus sudah karena tragedi delay Lion Air, maka tidak saya sia sia kan ketika akhirnya saya bisa sampai di Masjid ini, saya habiskan waktu dari dhuhur sampai magrib di masjid ini.
Menikmati senja di Baiturrahman
Saya hanya punya waktu satu hari untuk menjelajah Banda Aceh ini, sungguh bukan waktu yang lama untuk kemudian bisa menikmati keindahan serambi mekah ini. Banyak tempat yang saya rencanakan untuk dikunjungi, harus saya lewati karena hal yang tidak saya duga sebelumnya. Pukul 7 Malam saya harus meninggalkan Banda Aceh menuju Medan. Semoga kelak masih ada kesempatan untuk sekedar menengok negeri ini, Tanah Gayo adalah tujuan saya berikutnya.
Oh iya, jadi berapa biaya yang saya keluarkan untuk menjelajah Banda Aceh selama sehari itu, klo dihitung selama menjelajah 4 tempat itu, biaya yang saya keluarkan adalah nol rupiah. Tapi baiklah, saya mulai hitung dari Bandara s/d Berangkat ke Medan, tapi tanpa biaya selama di Pulau Weh ya…
| No | Keterangan | Biaya |
|---|---|---|
| 1. | Tiket Pesawat Lion Air Cengkareng - Banda Aceh | Rp.1.041.636 |
| 2. | Taksi Bandara - Peurada | Rp110.000 |
| 3. | Wisma Mentari, Peurada 1 Malam | Rp135.000 |
| 4. | Sarapan | Rp18.000 |
| 5. | Air Mineral | Rp6.000 |
| 6. | Becak Motor Masjid Baiturrahman - Terminal Betoh | Rp20.000 |
| 7. | Tiket Bus Banda Aceh - Medan | Rp180.000 |
| TOTAL | Rp1.510.636 |
*Tips & Trik
Karena saya menuju medan menggunakan bus, jika ada kawan kawang yang ingin menggunakan jasa transportasi yang sama, maka saya sarankan beli tiketnya di terminal betoh aja, karena di sana bisa melakukan tawar menawar, dan jangan khawatir akan kehabisan tiket, karena supply lebih besar dari pada demand. Klo saya kemaren beli di agen, jadi nya harga pas. Ketika sampai di terminal betoh, iseng buat tawar menawar harga, paling murah bisa sampai seratus ribu untuk armada bus patas.
Di Masjid baiturrahman, saya hampir kena scamming hingga akhirnya ada abang abang yang menyelamatkan saya dari tindak penipuan. Ada anak kecil dengan segala ceritanya bahwa dia sedang kesusahan, klo dari cerita yang dia sampaikan sih sepertinya benar dengan kondisi apa yang dia sampaikan tapi wallahu’lam. Karena ketika tiba waktu sholat dia juga sholat, baca qur’an juga, pun ketika bercerita bawa nama Allah. Sebagai sesama muslim, ketika seseorang sampai membawa nama Allah maka itu benar (seharusnya). Mungkin kondisi yang dia alami benar, tapi cara dia meminta bantuan itu yang salah. So, hati hati guys dimanapun kalian bepergian.
Hai… I’am a fulltime programmer who love travelling.My specialization are in front-end web dev and iOS mobile app dev. This site is one of place where I share my experience.