Mahalnya tiket pesawat Banda Aceh – Jakarta, membuat saya memilih alternatif lain, yaitu melalui Kualanamu – Jakarta. Maka jadilah Medan sebagai tujuan saya selanjutnya, setelah selesai menikmati keindahan pulau Weh dan Banda Aceh. Awalnya pengennya sih dimaksimalin explore Aceh nya, tapi kocek berkata lain. Senin malam tanggal 23 Februari 2015 saya berangkat meninggalkan Banda Aceh dari terminal Betoh menuju kota Medan. Ada yang kemudian membuat saya agak terkagum kagum, ketika sampai di terminal mendapati bus bus yang ada di sana keren keren, mikirnya bakal yang bisa, jelek malah. Persepsi saya ini muncul karena yang saya jadikan ukuran adalah bus PMTOH Solo – Banda Aceh, itu bus nya udah seperti kendaraan tempur. Tapi, justru bus PMTOH yang ada di terminal betoh pun juga bagus bagus. Tapi ada sedikit janggal ketika saya dapati di depan kaca ada pelindung, seperti yang ada di kendaraan polisi anti huru hara, saya tanya ke salah satu kenek, kenapa pada dipasangin pelindung? Katanya, masih sering terjadi pelemparan di daerah perbatasan. Waduh, was was juga, hanya berdoa semoga perjalan ke Medan lancara. Pukul 19.00 bus mulai meninggalkan terminal, dengan kursi tidak terisi penuh, tapi kemudian sepanjang perjalanan banyak penumpang yang naik. Dengan durasi perjalanan 13 jam dan biaya Rp 180.000 mikirnya bakal dapat makan seperti bus bus yang ada di Jawa, ternyata sampai kota Medan pun yang keluar hanya snack saja. Fuhhhh… Karena sudah capek, sepanjang perjalanan saya lebih memilih tidur, mengumpulkan tenaga untuk explore Medan esok hari. Ada yang kemudian luar biasa menurut saya, ketika waktu subuh tiba bus berhenti di salah satu masjid, tidak hanya bus yang saya tumpangi, tapi juga ada beberap bus yang lain. Masya Allah, perjalanan jauh tidak membuat orang orang ini lalai atau bahkan mengalahkan sholat.
Begitu sampai di Medan, saya turun di pemberhentian terakhir di pool bus pusaka, itu ada di jalan Medan – Binjai, terusan Jl. Gatot Subroto. Dari situ tempat yang saya tuju adalah Residence Hotel, tempat ini cukup terkenal sebagai hotelnya para backpacker, alamat ada di Jalan Tengah No. 1 Samping Timur Masjid Raya Medan.

Dari pool bus pusaka saya naik angkot menuju masjid raya, saya lupa angkot nomor berapa, tapi saya ngomong ke abang nya arah masjid raya, saya pikir bakal benar benar turun di depan masjid raya, ternyata angkot berhenti di persimpangan jalan sisingamangaraja, jadi saya harus berjalan kurang lebih 100 meter dari perempatan menuju ke masjid raya, setelah ketemu masjid raya, selanjutnya adalah mencari residence hotel, tidak butuh waktu lama karena di situ ada papan petunjuk yang sangat jelas.

Setelah ambil kamar, kemudian saya istirahat sebentar sambil cari informasi sewa motor di Medan, dapatlah saya motor dengan harga Rp 80.000 dan ongkos antar jemput Rp 20.000, jadi total Rp 100.000 untuk 24 Jam. Karena motor baru diantar ke residence hotel sekitar pukul 12.00 siang, maka sekitar setengah satu saya baru keluar. Sebenarnya bingung juga di Medan mau kemana, karena obyek wisata seperti brastagi dan gua jepang lumayan jauh dari kota, tapi kemudian saya mendapati postingan mas Fikry Fatullah di facebook lagi bahas tentang tempat masakan masakan yang enak itu salah satu adalah Medan, bahkan dia sebut masakan Medan itu paling enak, maklum karena dia orang Medan juga, tapi sedang bermukim di Bandung. Karena informasi itu, maka wisata kuliner saya jadikan agenda selama saya di Medan, sebenarnya wisata kuliner termasuk yang saya hindari, karena bakal keluarin duit banyak, tapi karena udah dapat uang kompensasi dari Lion Air, maka tak jadi soal. Hehehehe.
Setelah browsing, maka siang itu tempat makan yang saya kunjungi adalah Soto Sinar Pagi. Lokasi soto ini ada di JL. Sungai Deli, No. 2, lokasi pas di pojokan dari jalan Gatot Subroto masuk ke jalan Sungai Deli.

Dari cerita yang saya dapat di internet soto ini sih enak banget, karena saya penasaran untuk mencobanya, saya pesan soto sapi, sebenarnya tempat ini ga hanya menyediakan menu soto aja, tetapi sop dan gado gado, soto nya pun ada beberapa pilihan yaitu soto daging ayam, daging sapi atau paru sapi. Penyajian soto nya pun berbeda dengan penyajian soto yang pernah saya makan, dalam satu porsi soto ada 2 nasi, yang satu sebagai nasi tambah, soto dengan kuah santan, perkedel dan peyek udang, dan tak lupa sambal nya yang maknyuss.

Ga ada kewajiban untuk mengahabiskan menu yang tersaji, dan ga aturan makan ga dimakan bayarnya sama. Tapi emang lapar, ludes semua tuh semua makanan yang disajikan. Lalu apa yang istimewa dari soto ini, menurut saya yang istimewa adalah sambal nya, penasaran cara bikinnya, ini semacam sambal yang kemudian disiram kecap, tapi bukan sambal kecap pada umumnya, kalau dari rasa sih sepertinya sambal nya ketika di uleg dicampur juga dengan bawang merah goreng, bukan ditaburin, tapi diuleg bareng. Meskipun toping nya juga ditaburin dengan bawang merah goreng juga sih. Oh iya, rempeyek udang nya juga enak, klo saya mah, apapun itu asal udang ya jadinya istimewa. Kalau dari sotonya sih ga begitu istimewa, karena soto dengan kuah santan seperti ini mirip mirip dengan soto bogor dan soto betawi yang sebelumnya saya pernah makan.

Saya ga tahu harga per item nya, tapi total dari porsi yang disajikan plus teh panas semuanya Rp 48.000.
Siang cukup panas dan macetnya minta ampun, Medan yang juga mulai masuk kategori kota Metropolitan ini soal macet ga kalah juga dengan Jakarta, tapi panas nya itu lho, udah kayak bikin daging terpanggang, klo saya bawa telor terus saya muter muter Medan siang itu mungkin mateng kali ya telurnya. Tapi meskipun begitu tidak menyurutkan saya untuk berkeliling Medan, karena waktu yang terbatas. Maka setelah kenyang menyantap soto tujuan saya berikutnya adalah Museum Negeri Medan dan Taman Buaya. Entah sudah berapa lama tak berkunjung ke museum, ini pun karena udah ga pilihan mau kemana, ya akhirnya ke museum. Ngahahahaha…

Saya datang di hari selasa, saya pikir tadi saya bakal sedirian, tapi ternyata ada beberapa rombongan yang mengunjungi museum tersebut. Ada beberapa rombongan siswa SMP dan TK, museum medan ini ada 2 lantai, setelah selesai berkeliling di lantai 1 maka saya lanjutkan naik ke lantai 2.

Saking asyik nya nontonin barang barang yang dipajang, saya tidak sadar bahwa satu persatu pengunjung sudah pada pergi, hingga saya tersadar saya sendirian di lanti 2 itu, pas pula di bagian budaya indonesa dengan manekin manekin nya, karena jadi parno sendiri, akhirnya saya buru buru turun dan kemudian tour de museum nya saya sudahi.
Tujuan selanjutnya ada Taman Buaya Asam Kumbang di daerah Asam Kumbang, jalan Bunga Raya, letaknya di luar ring road Medan – Tebing Tinggi, menurut google map, dari museum Negeri menuju taman buaya ini sekitar 10 Km dengan estimasi waktu 30 menit, tapi karena macet, 1 jam perjalan saya baru sampai di Taman Buaya ini.

Taman Buaya ini adalah taman buaya terbesar di Asia Tenggara, lahan yang dipakai untuk menangkar buaya ini kurang lebih sekitar 2 hektar, ada berbagai macam ukuran buaya dengan umur yang bervariasi, bahkan kita bisa melihat buaya yang berumur 40 tahun disini.

Saya tadi berfikir buaya 40 tahun udah yang paling tua, tapi pas tanya ke petugas yang mengurus buaya buaya ini, ada yang lebih tua dari ini, udah sekitar 60 an tahun, jarang banget nongol, selalau berdiam di pojokan sono tu mas (sambil nunjukin bagin kolam yang paling ujung), emang sejak kapan taman ini ada? katanya sudah sejak tahun 1959. Busyet, berarti yang punya ini udah suka pelihara buaya sebelum kemudian taman ini dibuka dong ya.

Oh iya, tempat ini lumayan sejuk untuk meredam panasnya kota Medan, karena banyak pohon rindang yang tumbuh di Taman buaya ini. Puas melihat lihat buaya, saya putuskan untuk kembali ke hotel, karena udah ada janji ketemuan dengan teman kuliah di Lapangan Merdeka malam harinya.

Karena sampai di hotel masih sore, dan tahu sendiri magrib di medan itu 1/2 7 an, sedangkan standar waktu saya masih gunakan di Jawa, karena menunggu waktu magrib tiba masih lama, saya berencana untuk menghabiskan waktu menunggu senja pelataran masjid raya Al Mashun, sambil menikmati kolak durian yang dijajakan di halaman parkir depan masjid Al Mashun, satu mangkok kolak durian udah habis, tapi rasanya kok waktu berjalan lambat.

Maka kemudian saya gunakan waktu yang tersisa untuk mengunjungi sebentar istana maimun yang letak nya tidak begitu jauh dari masjid Al Mashun ini, lumayan ramai juga orang yang menghabiskan waktu bersama di pelataran istana maimun ini, saya pikir masih bisa masuk ke dalam istana sore itu, tapi ternyata sudah tutup, kemudian saya cari informasi jam buka untuk bisa berkunjung masuk ke dalam istana, istana maimun bisa dikunjungi wisatawan mulai pukul 08.00 s/d 16.00.

Lantunan ayat qur’an mulai berkumandang tanda magrib segera darang, saya buru buru balik ke hotel untuk mandi, kemudian sholat dan lanjut menuju ke Lapangan Merdeka untuk bertemu dengan teman kuliah, yang sudah hampir 3 tahun lebih tak bertemu. Teman saya ini sebenarnya aslinya dari Takengon, Aceh, cuma kemudian bekerja di Medan.

Sangat berterimakasih sekali sudah disempatkan waktu untuk bertemu dengan saya, padahal kondisi istrinya dalam hamil besar, dan Alhamdulillah 2 bulan yang lalu anak pertamanya tersebut sudah lahir, dan resmi sudah sekarang dia menjadi ayah. Kami ngobrol lumayan banyak, sambil menikmati santap malam di Food Court Lapangan Merdeka, saya kira bakal ketemu makanan khas medan, tapi isinya malah brand brand modern, dan makanan luar medan. Saya sempat tanya juga ke istri teman saya ini, klo makanan asli medan bisa di coba di mana, tapi kemudian dia tidak merekomendasikan makanan asli medan, karena dari bahan nya tidak bisa menjamin ke-halal-annya. Malam makin larut, kami tutup obrolan kami dan kembali ke tempat masing masing.
Agenda hari ke-2 di Medan tetep wisata kuliner, berkunjung ke Istana Maimun dan cari oleh oleh. Pukul 07.00 saya sudah keluar dari hotel untuk cari sarapan di Taman Ahmad Yani, di sini banyak pedagang makanan berjajar dengan berbagai macam menu pilihan.

Bingung juga awalnya mau makan apa, tapi kemudian saya memilih untuk sarapan dengan Lontong Sayur Medan. Saya cukup mengeluarkan Rp 15.000 untuk satu porsi Lontong Sayur + Teh Panas + 1 Bungkus kerupuk udang.

Meskipun belum kenyang, hehehehe… (ga perlu kenyang emang, karena kan mau wisata kuliner). Maka tujuan saya selanjutnya adalah ke istana Maimun, untuk masuk istana maimun ini tidak dipatok tarif tiket masuk, cuma disuruh kasih seikhlasnya. Guys, kalau bisa ketika masuk ke tempat bersejarah seperti ini dan tidak dipatok harga tiket jangan pelit pelit ya ngasihnya, hitung hitung sebagai wujud cinta kita terhadap warisan kejayaan pendahulu kita, turut membantu melestarikan warisan budaya ini.



Karena tadi belum kenyang, dan sepertinya lontong sayur pagi tadi udah habis untuk berkeliling istana maimun, next target adalah makan lagi… Yeayyy… Kali ini yang jadi sasaran adalah Soto Kesawan, lumayan bingung juga waktu nyari lokasi nya. Harus beberapa kali tanya, padahal lokasi nya cukup mudah, cuma karena warung nya kecil, jadi tidak begitu mencolok, lokasi pas nya sih di depan gedung Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Medan, di Jalan Yos Sudarso, maju dikit dari perempatan Jl. Pemuda dan Palang Merah, sebelah kiri jalan. (Jl. Yos Sudarso ini jalan searah, jadi kalau udah kelewat ya harus muter lumayan jauh).


Tidak seperti soto biasanya yang isian daging nya itu kalau tidak dari Ayam dan Sapi, tapi ada yang istimewa dari Soto Kesawan ini, yaitu Soto Udang. Hmmmm, yummy… Seperti saya sebelumnya, apapun itu kalau udang, bagi saya istimewa.

Cara penyajiannya standar, Soto dengan nasi pisah, dan sambal, tidak seistimewa penyajian di Soto Sinar Pagi. Dan… saya ketemu dengan sambal itu lagi. Mungkin ini sudah khas sambal soto di Medan seperti ini kali ya.

Untuk satu porsi soto udang plus es teh saya bayar dengan 3 lembar uang 10 ribuan. Harga yang layak untuk sensasi soto dengan isian yang berbeda, soto ini yang bikin saya kangen dengan Medan.
Jadwal Checkin pesawat saya pukul 16.50, maka setelah selesai makan di Soto Kesawan saya buru buru beli oleh oleh, apalagi kalau bukan bolu meranti, bolu ini sudah cukup iconic sebagai oleh oleh khas medan, sebenarnya deket deket hotel juga ada cabangnya, yaitu bolu meranti cabang sisingamangaraja, tapi karena sudah di Medan, ada motor pula, sayang kalau ga langsung beli dari pusatnya di Jalan Kruing No. 2K.


Sebelum terjadi pengambilan gambar ini, terjadi percakapan.
Jilbab Biru : “Mas, ngapain moto in kayak gitu, mending moto in kita.”
Jilbab Kuning : “Oh, pasti takut sama istri nya ya kalau ada foto cewek?”
Saya : “Saya belum punya istri mbak.” (sekalian curhat) -_-“
Jilbab Kuning : “Belum punya tho, ya dah mas, sama ini aja, tunjuk wanita berjilbab kuning, ke temen sebelahnya.”
Saya : “Loh beneran ga ? Kalau mau, saya bawa ke Bandung sekarang?”
Mereka : “langsung pada tertawa”
Saya : “Jadi ga nih diambil foto nya?”
Mereka : “Jadi dong mas, tapi pake action dulu mas, biar kelihatan lagi ngelayanin”
Saya : “Ya udah, sok aja, siap ya? *jepret begitulah bunyinya”
*nih yang kuning waktu itu ga bisa diem, jadinya agak ngeblur
Oleh oleh sudah didapat, saat nya kembali ke hotel untuk checkout sekaligus mengembalikan motor. Lokasi bandara kualanamu dari medan lumayan jauh, teman ada yang menyarankan naik Damri agar biaya nya murah, tapi karena ada pilihan transportasi yang lebih keren dan cepet, akhirnya saya pilih untuk naik Raillink, meskipun biaya cukup mahal yaitu Rp 100.000 untuk sekali trip. Tapi tidak jadi mengapa untuk harga sebuah pengalaman. Karena ini kereta pertama kali yang menghubungkan Stasiun dengan Bandara. Tiket Raillink saya beli secara online karena takut ga kebagian jika harus beli ditempat, tapi ternyata masih kosong banyak banget waktu saya berangkat ke bandara.
Jadwal kereta saya pukul 14.57, masih banyak waktu tersisa setelah saya chekout dari hotel. Saya sempatkan waktu yang ada untuk menikmati kota tua di kesawan. Hingga kemudian saya ketemu satu bangunan, namanya rumah Tjong A Fie, ternyata rumah ini termasuk salah obyek wisata di Medan, kita bisa berkunjung ke sana dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 35.000, dan anda akan mendapat satu tour guide yang akan mendampingi serta menjelaskan mengenai sejarah Rumah Tjong A Fie ini.

Tjong A Fie merupakan salah satu konglomerat cina saat itu, perannya sangat banyak dalam pembangunan kota Medan serta perdagangan kala itu, sedangkan rumah ini dibangun sebagai hadiah untuk istri nya yang sampai sekarang masih berdiri kokoh dan terawat. Rumah ini dibangun tahun 1895 dan selesai tahun 1900 di daerah Kesawan, Medan. Untuk ukuran tahun itu, rumah ini sudah sangat mewah dengan arsitektur bangunan yang luar biasa.
Tak terasa hampir satu jam saya mengelilingi rumah ini, waktu sudah menunjukan pukul 14.15, buru buru saya menuju ke Stasiun karena saya berjalan kaki dari rumah Tjong A Fie, nanggung kalau harus naik angkot. Hitung hitung sambil menikmati bangunan komlek perdaganan kota Medan ini.
Begitu sampai stasiun, saya langsung menuju loket self service stasiun untuk mencetak tiket saya, tapi kok ga bisa bisa, pas saya tanya petugas, ditanya mas mau kemana? klo mau ke bandara ada di lantai dua mas, ups… ternyata beda stasiun antara Railink dengan kereta Api biasa. Langsung saja saya naik untuk menukarkan tiket, lumayan lama juga saya menunggu untuk cetak tiket ini, sepertinya jarang ada yang beli secara online, terlihat dari petugas yang masih gagap dalam melayani tiket via online ini, dia harus tanya dulu ke supervisor dulu. Untung aja petugas nya cantik cantik, mau di lama lamain lagi juga ga masalah. Tak menunggu lama, penumpang langsung disuruh naik ke kereta, interior kereta ini cukup keren. Perjalanan Medan – Kualanamu pun cukup ditempuh dalam waktu 30 menit.


Sesampai di Bandara, saya langsung check-in, dan saya baru tahu kalau air asia tidak bisa pilih tempat duduk seperti halnya maskapi lain, berharap sih dapat tempat duduk di dekat jendela, tapi begitu tiket keluar, yahhh… malah dapat kursinya yang ditengah. Sekitar setengah enam penumpang mulai memasuki pesawat, dan sekitar pukul 18.00 pesawat mulai take off, pengennya sih selamat penerbangan Kualanmu – Jakarta pengen tidur aja, karena dapat kursi ditengah terus mau apalagi, mau menikmati dan mengabadikan keindahan langit senja ga bisa, mau menikmati keindahan pramugari yang berlalu lalang juga tak leluasa (yang ini bercanda). Dan bener aja, langit senja kala itu begitu indah, nyesek rasanya ga bisa mengabadikan keindahaan kala itu. Sempat ambil sekali dengan permisi, itupun di akhiri dengan “cyak cyek cyak cyek” yang keluar dari mulut tetangga kursi.

Ya udah merem ajalah, tapi belum sempat merem, tiba tanda untuk menggunakan sabuk pengaman menyala, dan ada instruksi untuk memakai sabuk pengaman karena sedang cuaca buruk. Tahu kan ya waktu ga jauh jauh dari kejadian hilangnya peswata Air Asia, isi kepala ini udah parno aja, hanya bisa pasrah dan dzikrullah. Kalau udah naik pesawat itu ya udah pasrah aja, mau lompat juga ga bisa. Pesawat dalam guncangan selama 20 menit, bayangin 20 menit, kamu diatas langit sana, dan berasa kayak dimainin. Itu guncangan terlama yang pernah saya rasakan selama naik pesawat, waktu ke Indonesia Timur, cuaca lebih ekstrim lagi, bahkan saya sempat tertahan di Ambon selamat 4 hari karena cuaca buruk. Tapi tidak pernah mengalami guncangan selama itu. Tapi alhamdulillah bisa mendarat selamat di bandara Soetta, dari soetta saya lanjutkan perjalanan menuju Bandung, sekitar pukul 23.30 malam saya sampai di Rumah.
| No | Keterangan | Biaya |
|---|---|---|
| 1. | Angkot Pool Kurnia - Sisingamangraja | Rp 5.000 |
| 2. | Residence Hotel | Rp 70.000 |
| 3. | Sewa Motor | Rp 100.000 |
| 4. | Bensin | Rp 12.000 |
| 5. | Soto Sinar Pagi | Rp 48.000 |
| 6. | Parkir Soto Sinar Pagi | Rp 2.000 |
| 7. | Tiket Museum | Rp 2.000 |
| 8. | Parkir Museum | Rp 2.000 |
| 9. | Tiket Taman Buaya | Rp 6.000 |
| 10. | Parkir Taman Buaya | Rp 2.000 |
| 11. | Pulpi Orange + Pocari | Rp 15.000 |
| 12. | Kolak Durian | Rp 12.000 |
| 13. | Lontong Sayur Medan | Rp 15.000 |
| 14. | Tiket Masuk Istana Maimun | Rp 5.000 |
| 15. | Parkir Istanan Maimun | Rp 2.000 |
| 16. | Soto Udang Kesawan | Rp 30.000 |
| 17. | Bolu Meranti | Rp 265.000 |
| 18. | Parkir Bolu Meranti | Rp 1.000 |
| 19. | Angkot Masjid Raya - Kesawan | Rp 5.000 |
| 20. | Tiket Masuk Tjong A Fie | Rp 35.000 |
| 21. | Tiket Railink | Rp 100.000 |
| 22. | Airport Tax | Rp 75.000 |
| 23. | Tiket Air Asia Kualanamu - Jakarta | Rp 761.817 |
| 24. | Tiket Citi Trans Soetta - Bandung | Rp 135.000 |
| TOTAL | Rp 1.705.817 |
Hai… I’am a fulltime programmer who love travelling.My specialization are in front-end web dev and iOS mobile app dev. This site is one of place where I share my experience.





